Berita, Education

Politik Adu Domba Devide et Impera

adu domba politik

Devide et Impera merupakan politik adu domba yang dikerjakan lewat cara memecah grup besar jadi sebagian grup kecil supaya gampang ditaklukan. Politik itu dibawa oleh Belanda dari pertama kehadirannya ke lokasi Nusantara. Politik ini dapat diaplikasikan untuk mencegah sebagian grup kecil menyatu yang pada akhirnya jadi besar serta kuat lantaran hal itu bakal menyusahkan Belanda. Mulai sejak dulu bangsa Indonesia merupakan bangsa yang heterogen, orang-orang Indonesia mempunyai latar belakang suku, ras, agama, serta budaya yang bermacam. Keberagaman itu mempermudah Belanda dalam melakukan politik adu dombanya, propaganda, fitnah serta semua usaha untuk memecah iris digerakkan oleh Belanda.

Dalam pelaksaannya politik devide et impera itu digerakkankan lewat cara penentangan kekuasaan yang ada di lokasi kerajaan ataupun orang-orang. Penentangan yang dikerjakan oleh Belanda itu bakal menyebabkan timbulnya dua tim di pada sebuah grup. Belanda juga memakai hal semacam ini dengan pro ke satu diantara tim serta menelantarkan tim yang lain. Belanda bakal menimbulkan beberapa gosip yang bikin grup ini sama-sama bertentangan serta kekuasaanya juga goyah. Dalam kegoyahan berikut Belanda juga bakal masuk serta kuasai grup itu.

Di Nusantara Belanda lakukan politik devide et impera di beberapa kerajaan. Di Kerajaan Gowa-Tallo Belanda (VOC) menggerakkan politik itu dengan mengadu domba raja Gowa Sultan Hasanudin dengan raja Bone yakni Aru Palaka. Bone merupakan lokasi yang ada di bawah kekuasaan kerajaan Gowa. Aru Palaka memimpin perlawanan Bone pada kerajaan Gowa, dalam perlawanannya Aru Palaka dibantu oleh VOC. Karena pertolongan VOC Aru Palaka juga pada akhirnya bisa menaklukkan kerajaan Gowa. Kekalahan itu juga menimbulkan suatu kesepakatan perdamaian yang dimaksud Kesepakatan Bongaya. Isi dari kesepakatan itu yaitu deklarasi kekalahan Gowa dari VOC hingga kerajaan Gowa mesti melepas beberapa daerah penjajahannya, seperti kerajaan Bone. Diluar itu kesepakatan itu diisi pengesahan kalau VOC memiliki hak lakukan monopoli perdagangan di Makassar sudah pasti kesepakatan itu sangatlah merugikan untuk kerajaan Gowa serta mengantarkan kerajaan itu ke gerbang kehancuran.

Dalam mengusai lokasi Kesultanan Banten, Belanda juga kembali memakai politik devide et imperanya. Pertikaian serta persaingan perebutan kekuasaan yang berlangsung pada Sultan Ageng serta putranya yakni Sultan Haji digunakan Belanda dengan baik. VOC merapat jadi grup yang pro pada Sultan Haji. Hal semacam ini juga jadikan perang saudara tak terelakkan sekali lagi. Dengan pertolongan VOC Sultan Haji juga bisa menaklukkan Sultan Ageng serta memenangi perang saudara itu. Pertolongan VOC pada Sultan Haji tidak gratis, Sultan Haji membayar pertolongan VOC dengan penyerahan lokasi Lampung pada VOC serta ganti semua kerugian VOC disebabkan perang saudara. Tetapi sesudah perang saudara kondisi Banten jadi tak konstan. Banyak perseteruan yang berlangsung didalam kesultanan ataupun didalam masyrakat Banten sendiri hingga menyebabkan banyak perlwanan rakyat pada pemerintahan kesultanan Banten. Untuk meredam beragam perseteruan Sultan Banten juga minta pertolongan VOC yang pada akhirnya bikin kesultanan Banten jadi di bawah kekusaan VOC. Begitu politik devide et impera juga jadi system yang mengantarkan Belanda kuasai beragam lokasi di Nusantara.

Leave a Reply